Entri Populer

Jumat, 27 Maret 2015

Kesehatan Mental 1

1.    Sejarah Kesehatan Mental
·       Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan baik mental maupun fisik seperti infeksi, artritis, penyakit pernapasan dan usus, serta arteriosklerosis (penyempitan pembuluh darah). Tetapi, manusia purba benar-benar berusaha mengatasi penyakit mental. Ia memandang dan merawatnya sama seperti halnya dengan penyakit-penyakit fisik lainnya. Baginya gigi yang sakit dan seseorang yang gila (yang berbicara tidak karuan) disebabkan oleh penyebab yang sama, yakni roh-roh jahat, halilintar, atau mantera-mantera musuh. Jadi, untuk penyekit baik mental maupun fisik digunakan perawatan-perawatan, seperti menggosok, memijat, menghisap, memotong, dan membaut. Atau juga menggunakan salep, mantera, obat keras, dan sihir, atau cara-cara lain yang mungkin terfikirkan oleh kawan-kawannya, pemimpin-pemimpinnya, atau ia sendiri. Tapi sungguh menggembirakan karena para pasien sakit mental tetap diperlakukan secara manusiawi. Meraka tidak dibuang dari masyarakat, di kurung dalam gua-gua, ditertawakan, dipukuli, atau juga dibunuh.
·       Peradaban-Peradaban Awal
Dalam semua peradaban awal yang kita kenal di Mesopotamia, Mesir, Yahudi, India, Cina, dan benua Amerika, imam-imam dan tukang sihir merawat orang-orang sakit mental. Di antara semua peradaban tersebut sepanjang zaman kuno (dari 5000 tahun SM sampai 500 tahun M), penyakit mental mulai menjadi hal yang umum. Bersama dengan penderita-penderita lain, kekalutan-kekalutan mental menjadi kawan seperjalanan yang setia bagi manusia pada waktu ia bergerak menuju kehidupan yang terorganisasi. Ilmu kedokteran menjadi lebih terorganisasi waktu peradaban-peradaban menjadi lebih maju.
·       Abad Pertengahan (Abad Gelap)
Dengan hancurnya peradaban Yunani-Romawi, kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa mengalami kemunduran. Banyak kebiasaan baik yang telah lama dibina dalam ilmu kedokteran sebelumnya tidak teruskan, dan hal yang lebih buruk, tahayul-tahayul kuno, dan ilmu tentang setan-setan (demonologi) dihidupkan kembali dan pemikiran teologi pada waktu itu kurang berusaha untuk mematahkan pendekatan yang bersifat spiristis terhadap masalah penyakit mental. Exorcisme dianggap penting sekali. Dengan demikian, mantra-mantra dianggap sebagai bagian sahdari ilmu kedokteran , bahkan pemakaian teknik-teknik yang benar-benar rasional harus disertai dengan mengucapkan kata-kata mantra (mistik).
Dokter-dokter yang sangat baik pada waktu itu disuruh menggunakan jimat-jimat. Misalnya, Alexader dari Tralles (525-605 M) yang menekankan pentingnya faktor-faktor konstitusional dan menghubungkannya dengan tipe-tipe khusus kekalutan mental. Ia menyelidiki luka-luka pada lobus frontalis serta memperhatikan perubahan-perubahan tingkah laku yang menyertainya, merawat orang yang sakit perut dengan menggunakan batu dengan pahatan gambar Herkules yang sedang menaklukkan singa.
·       Zaman Renaisans
Meskipun para pasien sekit mental tenggelam dalam dunia takhayul dan lingkungan yang tidak berperikemanusiaan, namun dinegara-negara tertentu di Eropa suara-suara diteriakan oleh tokoh-tokoh agama, ilmu kedokteran dan filsafat. Usaha-usaha mereka selama masa tersebut mungin digambarkan Sebagai “terang dalam kegelapan”.
·       Abad XVII – Abad XX
Kecendrungan umum pertama terhadap perawatan khusus bag para pasien sakit mental mungkin sekali muncul setelah pembaruan-pembaruan sosial, politik, dan ilmu pengetahuan yang menjadi cirri dari pertengahan abad ke-18. Hanya perlu dicatat di sini bahwa pada awal abad ke-18, yang dilihat sebagai “Zaman Rasio”, perhatian dipusatkan pada klasifikasi dan sistem, suatu ha yang mungkin sama dengan analisis sistem. Kemajuan-kemajuan dalam ilmu kedoteran fisik dicapai dengan identifikasi, penyeidikan dan usaha untuk secara rasional mengobati banyak penyakit yang sampai saat itu dilihat sebagai sesuatu yang misterius dan magis.
·       Psikiatri
Pada tahun 1800-an ada usaha untuk menolong para pasien sakit mental tetapi akhir abad itu dokter-dokter belum menemukan penyebab-penyebab, atau pencegahan, penyembuhan, atau perawatan yang efektif terhadap penyakit mental. Meskipun mereka telah mengklasifikasikan beribu-ribu macam kekaluta mental.
2.  Konsep Sehat
Berabad-abad yang lalu, Sehat (Health) dapat di artikan sebagai kondisi yang normal dan alami. Secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah.  Segala sesuatu yang tidak normal dan bertentangan dengan alam dianggap sebagai kondisi tidak sehat yang harus dicegah. Sehat bersifat dinamis yang statusnya terus menerus berubah. Kesehatan mempengaruhi tingkat fungsi seseorang baik dari segi fisiologis, psikologis dan dimensi sosiokultural.
Keadaan sehat atau normal merupakan hal sulit didefinisikan. Setiap orang atau kelompok memiliki pemahaman yang berbeda. Meskipun rumit dan bervariasi, keadaan bisa dikatakan sehat atau normal setelah memenuhi parameter tertentu. Konsep umum tentang keadaan sehat akan menggunakan nilai rata-rata parlementer sebagai acuan. Nilai rata-rata tersebut dikenal dengan istilah nilai normal. Dibawah ini beberapa definisi sehat yang dapat menjadi acuan menurut:
1.     Parkins (1938)
Sehat  :  Suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
2.     WHO (World Health Organization)
a.      Tahun 1957
Sehat  :  Suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki.
b.     Tahun 1974
Sehat  :  Keadaan yang sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
c.      Tahun 2001
menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.
3.     White (1977)
Sehat  :  Suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
4.     UU Kesehatan No. 23/ 1992
Sehat :             Suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap
manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis.
Ciri-ciri pribadi sehat menurut buku “Mengenal Perilaku Abnormal”:
Aspek penyesuaian diri
Ciri perilaku
Sikap terhadap diri sendiri
Menunjukkan penerimaan diri; memiliki jari dir yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistic terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
Persepsi terhadap realitas
Memiliki pandangan yang realistik terhadap diri dan terhadap dunia, orang maupun benda di sekelilingnya.
Integrasi
Berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stress.
Komptensi
Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problem hidup.
Otonomi
Memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri (self-determination; self-direction) yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
Pertumbungan aktualisasi diri
Menunjukkan kecenderungan kearah menjadi semakin matang, semakin berkembang kemampuan-kemampuannya dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.
      Pengertian dari konsep sehat itu sendiri adalah konsep yang timbul dari diri kita sendiri secara sadar mengenai berbagai upaya untuk mendapatkan status sehat bagi tubuh kita. Pemahaman konsep sehat ini juga bisa diartikan sebagai keseimbangan, keserasian, keharmonisan antara faktor pikir (akal), jiwa (mental atau spiritual), dan raga (fisik, lahiriah).  Jika faktor ini terintegrasi secara baik dan berimbangan, kita dapat memahami konsep sehat secara utuh. Konsep sehat ini yang akan menuntun kita pada pola atau tata laku sehari-hari yang sehat.
Konsep Sehat (Travis and Ryan, 1998)
a) Sehat merupakan pilihan, suatu pilihan dalam menentukan kesehatan .
b) Sehat merupakan gaya hidup, disain gaya hidup menuju pencapaian potensial tertinggi untuk sehat.
c) Sehat merupakan proses, perkembangan tingkat kesadaran yang tidak pernah putus, kesehatan dan kebahagiaan dapat terjadi di setiap momen, ”here and now.”
d) Sehat efisien dalam mengolah energi, energi yang diperoleh dari lingkungan, ditransfer melalui manusia, dan disalurkan untuk mempengaruhi lingkungan sekitar.
e) Sehat integrasi dari tubuh, pikiran dan jiwa, apresiasi yang manusia lakukan, pikirkan, rasakan dan percaya akan mempengaruhi status kesehatan.
f)  Sehat adalah penerimaan terhadap diri.
3.    Perbedaan Kesehatan Mental Konsep Barat dan Timur
Perbedaan antara konsep barat dengan konsep timur dipengaruhi oleh kebudayaannya. Akibat dari itu terdapat perbedaan pandangan mengenai kesehatan mental. Seiring dengan kemajuan IPTEK membuat relasi antar manusia semakin mendunia, sehingga sekarang ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba mengintegrasikan system pengobatan antara kedua kebudayaan. Secara umum konsep tersebut memiliki perbedaan dalam memandang kesehatan mental. Perbedaan yang jelas terlihat:
-         Konsep Timur:
Lebih mementingkan keselarasan, tidak memisahkan mind and body, tidak fragmentaris dan tidak analitis, namun kelemahannya sukar ditarik operasionalisasi dan kejelasan konsepnya.
-         Konsep Barat:
Tidak memudahkan bagi usaha-usaha prikoterapis seperti yang dikenal pada dunia Ilmiah.
     
Ada pula perbedaan antara model barat dan timur. Perbedaan model barat dengan model timur antara lain:
-         Model Barat
Lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis.
1.     Model Biomedis (Fruend, 1991)
Dipengaruhi oleh filosofi Yunani (Plato&Aristoteles). Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Ditambah dengan perkembangan biologi, penyakit dan kesehatan semata-mata dihubungkan dengan tubuh saja. Semboyan: “Men Sana In Corpore Sano”. Memiliki 5 asumsi: (Freund, 1991)
-  Terhadap perbedaan nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada satu bagian tubuh tertentu.
-    Penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh.
- Penyakit disebabkan oleh suatu penyebab khusus yang secara potensial dapat diidentifikasi.
-     Tubuh seperti sebuah mesin.
-      Tubuh adalah objek yang perlu diatur dan dikontrol.
2.     Model Psikiatris (Helman, 1990)
Dibawah ini penggunaan berbagai model untuk menjelaskan penyebab gangguan mental.
-  Model organik: menekankan pada perubahan fisik dan biokimia di otak.
- Model psikodinamik: berfokus pada faktor perkembangan dan pengalaman.
-    Model behavioral: psikosis terjadi karena kemungkinan2 lingkungan.
-    Model sosial: menekankan gangguan dalam konteks performansnya.
3.     Model Psikosomatis (Tamm, 1993)
Muncul karena ketidakpuasan dengan model biomedis. Dipelopori oleh Helen Flanders Dunbar (1930-an). Tidak ada penyakit fisik tanpa disebabkan oleh anteseden emosional dan sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom somatik. Penyakit berkembang melalui saling terkait secara berkesinambungan antara faktor fisik dan mental yang saling memperkuat satu sama lain melalui jaringan yang kompleks.
~       Model Timur
Timur lebih bersifat holistik (Joesoef, 1990) yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saking berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.  
1.     Holistik sempit
Organisme manusia dilihat sebagai suatu sistem kehidupan yang semua komponennya saling terkait dan saling tergantung.
2.     Holistik luas
Sistem tersebut merupakan suatu bagian integral dari sistem-sistem yang lebih luas, dimana organisme individual berinteraksi terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya, yaitu tetap terpengaruh oleh lingkungan tapi juga bisa mempengaruhi dan mengubah lingkungan.



Sumber Pustaka
- Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
- Effendy, Drs. Nasrul. (1977). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
-  Dewi, Kartika Sari. (2012). Bahan Ajar Kesehatan Mental.
Semarang: UPT UNDIP Press Semarang.
- Wratsongko, Madyo. (2010). Sholat Jadi Obat (Edisi Revisi). Jakarta: Gramedia.
- Asmadi. (2005). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
-     Fakhrurrozi, M. Kesehatan Mental. Powerpoint KesMen