Entri Populer

Rabu, 27 Mei 2015

fenomena stress pada wanita dan hubungan kesehatan mental dengan social support

Fenomena Stress pada Wanita
Stress merupakan keadaan yang sudah tidak asing lagi bagi kita sebagai Manusia, hampir semua dari kita pernah mengalaminya , baik laki-laki atau perempuan. J.P Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stress sebagai Satu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan stress dinamakan stressol. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stress, atau secara singkat dikatan sebagai stres. Stress yang kita alami tidak selamanya jelek, stress ringan perlu kita alami untuk menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas atau hal lain yang sedang kita hadapi, dengan begitu stress juga membantu orang yang mengalaminya untuk melakukan penyesuaian. Sedangkan yang dikatakan sebagai stress yang jelek adalah stress yang melekat kuat pada orang yang mengalaminya dan bertahan lama. Stress yang seperti ini sering dianggap dapat menganggu jasmani dan rohani orang yang mengalaminya.
Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005;481), “Stress is the anxious or threatening feeling that comes when we interpret or appraise a situation as being more than our psychological resources can adequately handle”. (“Stres adalah rasa cemas atau rasa terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi yang melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai”
Baron dan Byrne (1997) menyatakan bahwa stres merupakan respon terhadap persepsi kejadian fisik atau psikologis dari individu sebagai sesuatu yang potensial menimbulkan bahaya atau tekanan emosional.
Menurut Santrock (2003) stres merupakan respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).
Penyebab Stress : 
1. Peran Ganda
Kita tahu, banyak wanita masa kini yang mau tak mau harus menjalani peran ganda dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai wanita karier yang menjalani rutinitas di luar rumah. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kesulitan bagi wanita dalam menyeimbangkan perannya di dalam dan luar rumah.
Akibat banyaknya peran tersebut, sering membuat wanita lebih sedikit menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri karena tak ingin terlihat egois. Tidak ada waktu untuk diri sendiri, justru menjadikan tingkat stres wanita jadi lebih buruk.

2. Tidak Punya Kekuatan
Kurangnya kekuatan (power) sering menjadi penyebab stres pada wanita. Menurut Cleveland Clinic, wanita sering merasa tak punya kekuatan untuk mengubah kondisi yang mereka alami. Beberapa wanita merasa terjebak pada kehidupannya dan tak tahu cara mengubahnya.

3. Hormon
Selama hidupnya, wanita akan selalu mengalami perubahan hormon yang cukup ekstrem. Wanita mengalami siklus menstruasi dan perubahan hormon saat hamil atau menopause. Banyak ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan perubahan suasana hati dan efek samping lain yang tidak nyaman. Apapun itu, bisa menyebabkan stress.

4. Peristiwa Penting dalam Hidup
Salah satu penyebab seorang wanita stress adalah kematian pasangan. Karena biasanya wanita lebih panjang umur daripada pria, mereka pun jadi mudah merasakan stres akibat berstatus janda yang kehilangan suami karena meninggal.

5. Penyebab Stress Harian
Bagaimanapun usaha mengatasinya para wanita selalu bisa merasa stres akibat kegiatan sehari-hari. Penyebab stres harian antara lain, tagihan bulanan, anak mengalami tantrum, mobil menyerempet pagar atau bertengkar dengan suami.

Contoh kasus :
Curhatan seorang mahasiswi
seorang mahasiswi kuliah di sebuah universitas swasta di yogyakarta. Aku punya cowok tapi sangat posesif. kami menjalani hubungan jarak jauh sudah 3 tahun. selama di jogja aku tidak boleh bergaul dengan siapa saja. hubungan aku dan dia juga sudah sangat dekat dan kedua orang tua kami sudah mengetahui hubungan kami. namun dipertengahan jalan kami pacaran, orang tua ku tidak merestui hubungan kami karena pacarku dianggap orang yang tidak sopan. bahkan aku rela membantah orang tuaku demi membela dia.tapi kini yang membuat aku benar-benar shock ialah ketika ia berselingkuh dengan meniduri wanita lain dengan alasan aku telat selesai kuliah dan ngak tahan jauh dari ku. dengan hati yang hancur aku berusaha untuk memaafkan dirinya dan setelah kejdian itu perasaan ku terasa hambar padanya, mungkin karena telanjur benci. dan sekarang ia akan memutuskan aku jika aku telat selesai kuliah semester ini, dan ijazah SMA ku akan di bakar. aku bingung cara menghadapi sikapnya, jika ia marah maka aku selalu di maki-maki dan bahkan di pukul, aku takut jika aku menikah dengan nya nanti dia tidak bisa setia dan kekerasan dalam rumah tangga akan terjadi. aku takut salah memilih pasangan hidup.
Analisis kasus :
Dalam kasus ini mahasiswa tersebut mengalami emotional blackmail yang artinya pemerasan emosi yang dilakukan seseorang untuk membuat kita merasa bersalah jika  tidak menuruti apa yang diinginkan. Menurut Susan Forward, Phd., Emotional Blackmail menciptakan kabut FOG (Fear, Obligation, Guilt). Kabut ini mengaburkan, karena pelaku membuat kita nyaris tidak bisa melihat bagaimana mereka memanipulasi kita, membuat kita ketakutan jika kita menentang, merasa wajib mengikuti cara mereka dan merasa bersalah jika tidak melakukan.
Pelaku menggunakan Emotional Blackmail sebagai kunci untuk merasa aman dan berkuasa. Perilaku ini muncul akibat derajat kecemasan yang tinggi, ketakutan yang berkaitan dengan masa lalu mereka. Mereka membuat benteng pertahanan untuk melawan perasaan itu dengan Emotional Blackmail. Pada kasus ini terdapat 3 unsur yaitu :
·       Fear: sang pacar menimbulkan rasa takut dalam diri Saudara dengan ancaman
·       Guilt: Saudara merasa berdosa jika menolak keinginan sang pacar
·       Obligation: akhirnya Saudara memenuhi apa yang dia inginkan
Dalam kasus ini menurut saya mungkin ia dapat jangan bersikap reaktif ketika berhadapan dengan pacarnya, endapkan dulu kata-katanya, analisa dan putuskan untuk mengganti dengan pilihan positif, binalah relasi sehat dan baru antara ia dan pacarnya. Jika perilaku mereka tidak bisa berubah, kitalah yang berubah dalam merespon dan memutuskan, dan terakhir balik lagi kepada individunya apakah berani untuk mengakhiri hubungan yang sudah tidak sehat tersebut atau tidak. Masalahnya jika ia tidak dapat berubah juga maka akan tersiksa juga hidup kita bersamanya kelak.

Kesehatan Mental dan Social Support (Dukungan Sosial)

Secara umum kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup. Dalam hal kejiwaan kesehatna mental dapat diartikan sebagai terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan gejala-gejala penyakit jiwa (psychose). Pribadi yang normal/ bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia. Saat ini, individu yang sehat mental dapat dapat didefinisikan dalam dua sisi, secara negative dengan absennya gangguan mental dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu sehat mental. Adapun karakteristik individu sehat mental mengacu pada kondisi atau sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat baik/ kebajikan (virtues) (Lowenthal, 2006). Kesehatan mental bukan saja merupakan ketiadaan akan penyakit mental. Kesehatan mental yang positif melibatkan suatu perasaan yang sejahtera dari sisi psikologis yang berjalan beriringan dengan perasaan sehat (Keyes & Saphiro, 2004;Ryff & Singer, 1998). Perasaan subjektif akan kesejahteraan, atau kebahagiaan merupakan penilaian seseorang akan kehidupannya (Diener, 2000).
Penegertian diatas dijelaskan bahwa kesehatan mental berhubungan erat dengan kehidupan sosial yaitu dalam hal komunikasi dan interaksi. Dalam kehidupan bersosial manusia perlu mendapatkan dukungan sosial.Sarafino (1994) menggambarkan dukungan sosial sebagai suatu kenyamanan, perhatian, penghargaan ataupun bantuan yang diterima individu dari orang lain maupun kelompok. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa dukungan sosial adalah kehadiran orang lain yang dapat membuat individu percaya bahwa dirinya dicintai, diperhatikan dan merupakan bagian dari kelompok sosial, yaitu keluarga, rekan kerja dan teman dekat (Casel dalam Sheridan&Radmacher, 1992). Siegel (dalam Taylor, 1999) mengemukakan, dukungan sosial sebagai informasi dari orang lain yang menunjukan bahwa ia dicintai dan diperhatikan, memiliki harga diri dan dihargai serta merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan kewajiban bersama. Dari beberapa pendapat tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan social merupakan ketersediaan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis yang didapat melalui interaksi individu dengan orang lain sehingga individu tersebut merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan merupakan bagian dari kelompok social.
Bentuk-bentuk Dukungan Sosial

House, dkk (dalam Sarafino, 1994) mengemukakan beberapa bentuk dukungan sosial, antara lain:
·       
Dukungan Emosional (Emotional Support)
Dinyatakan dalam bentuk bantuan yang memberikan dorongan untuk memberikan kehangatan dan kasih sayang, memberikan perhatian, percaya terhadap individu serta pengungkapan simpati.
·       
Dukungan Penghargaan (Esteem Support)
House (dalam Smet, 1994) menyatakan bahwa, dukungan penghargaan dapat diberikan melalui penghargaan atau penilaian yang positif kepada individu, dorongan maju dan semangat atau persetujuan mengenai ide atau pendapat individu serta melakukan perbandingan secara positif terhadap orang lain.
·      
Dukungan Instrumental (Tangible or Instrumental Support)
Mencakup bantuan langsung, seperti memberikan pinjaman uang atau menolong dengan melakukan suatu pekerjaan guna menyelesaikan tugastugas individu.
·       
Dukungan Informasi (Informational Support)
Memberikan informasi, nasehat, sugesti ataupun umpan balik mengenai apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain yang membutuhkan.
·       
Dukungan Jaringan Sosial (Network Support)
Jenis dukungan ini diberikan dengan cara membuat kondisi agar seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok yang memiliki persamaan minat dan aktivitas sosial. Dukungan jaringan sosial juga disebut sebagai dukungan persahabatan (Companioship Support) yang merupakan suatu interaksi social yang positif dengan orang lain, yang memungkinkan individu dapat menghabiskan waktu dengan individu lain dalam suatu aktivitas sosial maupun hiburan.

Komponen-komponen Dukungan Sosial
Weiss (dalam Cutrona, 1994) mengemukakan adanya enam komponen dukungan sosial yang disebut sebagai “The Social Provision Scale” dimana masing masing komponen alat berdiri sendiri, namun satu sama lain saling berhubungan. Adapun komponen tersebut antara lain:
a)      Instrumental Support
·       Reliable Alliance (Ketergantungan yang dapat diandalkan)
Dalam dukungan sosial ini, individu mendapat jaminan bahwa ada individu lain yang dapat diandalkan bantuannya ketika individu membutuhkan bantuan, bantuan tersebut sifatnya nyata dan langsung. Individu yang menerima bantuan ini akan merasa tenang karena individu menyadari ada individu lain yang dapat diandalkan untuk menolongnya bila individu mengalami masalah dan kesulitan.
·       Guidance (Bimbingan)
Dukungan sosial ini berupa nasehat, saran dan informasi yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Dukungan ini juga dapat berupa feedback (umpan balik) atas sesuatu yang telah dilakukan individu.

b)      Emotional Support
·       Reassurance of Worth (Pengakuanpositif)
Dukungan sosial ini berbentuk pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas individu. Dukungan ini akan membuat individu merasa dirinya diterima dan dihargai.
·       Emotional Attachment (Kedekatan emosional)
Dukungan sosial ini berupa pengekspresian dari kasih sayang, cinta, perhatian dan kepercayaan yang diterima individu, yang dapat memberikan rasa aman kepada individu yang menerima.
·       Social Integration ( Integrasi sosial)
Dukungan sosial ini memungkinkan individu untuk memperoleh perasaan memiliki suatu kelompok yang memungkinkannya untuk membagi minat, perhatian serta melakukan kegiatan secara bersama-sama. Dukungan semacam ini memungkinkan individu mendapatkan rasa aman, nyaman serta merasa memiliki dan dimiliki dalam kelompok yang memiliki persamaan minat.
·       Opportunity to Provide Nurturance (Kesempatan untuk mengasuh)
Suatu aspek penting dalam hubungan interpersonal adalah perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Dukungan sosial ini memungkinkan individu untuk memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh kesejahteraan.
Goetlieb (1983) menyatakan ada dua macam hubungan dukungan sosial, yaitu hubungan professional yakni bersumber dari orang-orang yang ahli di bidangnya, seperti konselor, psikiater, psikolog, dokter maupun pengacara, serta hubungan non professional, yakni bersumber dari orang-orang terdekat seperti teman, keluarga maupun relasi.
Konsepsi yang salah mengenai kesehatan mental, selama ini masih banyak mitos dan konsepsi yang diyakini masyarakat Indonesia mengenai Kesehatan Mental yang keliru, antara lain: gangguan mental adalah herediter/ diturunkan, gangguan mental tidak dapat disembuhkan, gangguan mental muncul secara tiba-tiba, gangguan mental merupakan aibnagi keluarga dan bagi lingkungannya. Hal ini sangat berdampak buruk pada seseorang yang sedang terkena gangguan mental. Mereka yang terkena gangguan mental ringan maupun berat harus mendapatkan dukungan social baik dari keluarga, sahabat, teman, maupun lingkungan sekitar mereka. Myers (dalam Hobfoll, 1986) mengemukakan bahwa sedikitnya ada tiga faktor penting yang mendorong seseorang untuk memberikan dukungan yang positif, diantaranya:
·       Empati, yaitu turut merasakan kesusahan orang lain dengan tujuan mengantisipasi emosi dan memotivasi tingkah laku untuk mengurangi kesusahan dan meningkatkan kesejahteraan orang lain.
·       Norma dan nilai sosial, yang berguna untuk membimbing individu untuk menjalankan kewajiban dalam kehidupan.
·       Pertukaran sosial, yaitu hubungan timbal balik perilaku sosial antara cinta, pelayanan, informasi. Keseimbangan dalam pertukaran akan menghasilkan hubungan interpersonal yang memuaskan. Pengalaman akan pertukaran secara timbal balik ini membuat individu lebih percaya bahwa orang lain akan menyediakan bantuan.

Daftar Pustaka :

·       Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma
·       Papalia, Diane E. Experience Human Development ; Twelfth Edition. Mc Graw Hill
·  Sarwono, Sarlito, W. Meinarno, Eko,A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika