Fenomena Stress pada Wanita
Stress merupakan keadaan yang sudah tidak asing lagi bagi
kita sebagai Manusia, hampir semua dari kita pernah mengalaminya , baik
laki-laki atau perempuan. J.P Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi
mendefinisikan stress sebagai Satu keadaan tertekan, baik secara fisik
maupun psikologis. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan
stress dinamakan stressol. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa
tersebut dinamakan respon stress, atau secara singkat dikatan sebagai
stres. Stress yang kita alami tidak selamanya jelek, stress ringan perlu kita
alami untuk menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas atau hal lain yang
sedang kita hadapi, dengan begitu stress juga membantu orang yang mengalaminya
untuk melakukan penyesuaian. Sedangkan yang dikatakan sebagai stress yang jelek
adalah stress yang melekat kuat pada orang yang mengalaminya dan bertahan lama.
Stress yang seperti ini sering dianggap dapat menganggu jasmani dan rohani
orang yang mengalaminya.
Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005;481), “Stress
is the anxious or threatening feeling that comes when we interpret or appraise
a situation as being more than our psychological resources can adequately
handle”. (“Stres adalah rasa cemas atau rasa terancam yang timbul ketika kita
menginterpretasikan atau menilai suatu situasi yang melampaui kemampuan
psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai”
Baron dan Byrne (1997) menyatakan bahwa stres merupakan
respon terhadap persepsi kejadian fisik atau psikologis dari individu sebagai
sesuatu yang potensial menimbulkan bahaya atau tekanan emosional.
Menurut Santrock (2003) stres merupakan respon individu
terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan
mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).
Penyebab
Stress :
1.
Peran Ganda
Kita tahu, banyak wanita masa kini yang mau tak mau harus menjalani peran ganda dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai wanita karier yang menjalani rutinitas di luar rumah. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kesulitan bagi wanita dalam menyeimbangkan perannya di dalam dan luar rumah.
Kita tahu, banyak wanita masa kini yang mau tak mau harus menjalani peran ganda dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai wanita karier yang menjalani rutinitas di luar rumah. Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kesulitan bagi wanita dalam menyeimbangkan perannya di dalam dan luar rumah.
Akibat
banyaknya peran tersebut, sering membuat wanita lebih sedikit menghabiskan
waktu untuk dirinya sendiri karena tak ingin terlihat egois. Tidak ada waktu
untuk diri sendiri, justru menjadikan tingkat stres wanita jadi lebih buruk.
2.
Tidak Punya Kekuatan
Kurangnya kekuatan (power) sering menjadi penyebab stres pada wanita. Menurut Cleveland Clinic, wanita sering merasa tak punya kekuatan untuk mengubah kondisi yang mereka alami. Beberapa wanita merasa terjebak pada kehidupannya dan tak tahu cara mengubahnya.
Kurangnya kekuatan (power) sering menjadi penyebab stres pada wanita. Menurut Cleveland Clinic, wanita sering merasa tak punya kekuatan untuk mengubah kondisi yang mereka alami. Beberapa wanita merasa terjebak pada kehidupannya dan tak tahu cara mengubahnya.
3.
Hormon
Selama hidupnya, wanita akan selalu mengalami perubahan hormon yang cukup ekstrem. Wanita mengalami siklus menstruasi dan perubahan hormon saat hamil atau menopause. Banyak ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan perubahan suasana hati dan efek samping lain yang tidak nyaman. Apapun itu, bisa menyebabkan stress.
Selama hidupnya, wanita akan selalu mengalami perubahan hormon yang cukup ekstrem. Wanita mengalami siklus menstruasi dan perubahan hormon saat hamil atau menopause. Banyak ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan perubahan suasana hati dan efek samping lain yang tidak nyaman. Apapun itu, bisa menyebabkan stress.
4.
Peristiwa Penting dalam Hidup
Salah satu penyebab seorang wanita stress adalah kematian pasangan. Karena biasanya wanita lebih panjang umur daripada pria, mereka pun jadi mudah merasakan stres akibat berstatus janda yang kehilangan suami karena meninggal.
Salah satu penyebab seorang wanita stress adalah kematian pasangan. Karena biasanya wanita lebih panjang umur daripada pria, mereka pun jadi mudah merasakan stres akibat berstatus janda yang kehilangan suami karena meninggal.
5.
Penyebab Stress Harian
Bagaimanapun usaha mengatasinya para wanita selalu bisa merasa stres akibat kegiatan sehari-hari. Penyebab stres harian antara lain, tagihan bulanan, anak mengalami tantrum, mobil menyerempet pagar atau bertengkar dengan suami.
Bagaimanapun usaha mengatasinya para wanita selalu bisa merasa stres akibat kegiatan sehari-hari. Penyebab stres harian antara lain, tagihan bulanan, anak mengalami tantrum, mobil menyerempet pagar atau bertengkar dengan suami.
Contoh kasus :
Curhatan seorang mahasiswi
seorang mahasiswi kuliah di sebuah universitas swasta di
yogyakarta. Aku punya cowok tapi sangat posesif. kami menjalani hubungan jarak
jauh sudah 3 tahun. selama di jogja aku tidak boleh bergaul dengan siapa saja.
hubungan aku dan dia juga sudah sangat dekat dan kedua orang tua kami sudah mengetahui
hubungan kami. namun dipertengahan jalan kami pacaran, orang tua ku tidak
merestui hubungan kami karena pacarku dianggap orang yang tidak sopan. bahkan
aku rela membantah orang tuaku demi membela dia.tapi kini yang membuat aku
benar-benar shock ialah ketika ia berselingkuh dengan meniduri wanita lain
dengan alasan aku telat selesai kuliah dan ngak tahan jauh dari ku. dengan hati
yang hancur aku berusaha untuk memaafkan dirinya dan setelah kejdian itu
perasaan ku terasa hambar padanya, mungkin karena telanjur benci. dan sekarang
ia akan memutuskan aku jika aku telat selesai kuliah semester ini, dan ijazah
SMA ku akan di bakar. aku bingung cara menghadapi sikapnya, jika ia marah maka
aku selalu di maki-maki dan bahkan di pukul, aku takut jika aku menikah dengan
nya nanti dia tidak bisa setia dan kekerasan dalam rumah tangga akan terjadi.
aku takut salah memilih pasangan hidup.
Analisis kasus :
Dalam kasus ini mahasiswa tersebut mengalami emotional
blackmail yang artinya pemerasan emosi yang dilakukan seseorang untuk membuat
kita merasa bersalah jika tidak menuruti apa yang diinginkan. Menurut
Susan Forward, Phd., Emotional Blackmail menciptakan kabut FOG (Fear,
Obligation, Guilt). Kabut ini mengaburkan, karena pelaku membuat kita nyaris
tidak bisa melihat bagaimana mereka memanipulasi kita, membuat kita ketakutan
jika kita menentang, merasa wajib mengikuti cara mereka dan merasa bersalah
jika tidak melakukan.
Pelaku menggunakan Emotional Blackmail sebagai kunci untuk
merasa aman dan berkuasa. Perilaku ini muncul akibat derajat kecemasan yang
tinggi, ketakutan yang berkaitan dengan masa lalu mereka. Mereka membuat
benteng pertahanan untuk melawan perasaan itu dengan Emotional Blackmail. Pada kasus
ini terdapat 3 unsur yaitu :
· Fear: sang pacar menimbulkan rasa
takut dalam diri Saudara dengan ancaman
· Guilt: Saudara merasa berdosa jika
menolak keinginan sang pacar
· Obligation: akhirnya Saudara
memenuhi apa yang dia inginkan
Dalam kasus ini menurut saya mungkin ia dapat jangan
bersikap reaktif ketika berhadapan dengan pacarnya, endapkan dulu kata-katanya,
analisa dan putuskan untuk mengganti dengan pilihan positif, binalah relasi
sehat dan baru antara ia dan pacarnya. Jika perilaku mereka tidak bisa berubah,
kitalah yang berubah dalam merespon dan memutuskan, dan terakhir balik lagi
kepada individunya apakah berani untuk mengakhiri hubungan yang sudah tidak
sehat tersebut atau tidak. Masalahnya jika ia tidak dapat berubah juga maka
akan tersiksa juga hidup kita bersamanya kelak.
Kesehatan Mental dan Social Support (Dukungan
Sosial)
Secara umum kesehatan mental adalah kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta
lingkungan di mana ia hidup. Dalam hal kejiwaan kesehatna mental dapat
diartikan sebagai terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose)
dan gejala-gejala penyakit jiwa (psychose). Pribadi yang normal/ bermental
sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa
diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola
kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang
memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang
sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri,
menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta
memiliki sikap hidup yang bahagia. Saat ini, individu yang sehat mental dapat
dapat didefinisikan dalam dua sisi, secara negative dengan absennya gangguan
mental dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu sehat
mental. Adapun karakteristik individu sehat mental mengacu pada kondisi atau
sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological
well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat baik/ kebajikan
(virtues) (Lowenthal, 2006). Kesehatan mental bukan saja merupakan ketiadaan
akan penyakit mental. Kesehatan mental yang positif melibatkan suatu perasaan
yang sejahtera dari sisi psikologis yang berjalan beriringan dengan perasaan
sehat (Keyes & Saphiro, 2004;Ryff & Singer, 1998). Perasaan subjektif
akan kesejahteraan, atau kebahagiaan merupakan penilaian seseorang akan
kehidupannya (Diener, 2000).
Penegertian diatas dijelaskan bahwa kesehatan mental
berhubungan erat dengan kehidupan sosial yaitu dalam hal komunikasi dan
interaksi. Dalam kehidupan bersosial manusia perlu mendapatkan dukungan
sosial.Sarafino (1994) menggambarkan dukungan sosial sebagai suatu kenyamanan,
perhatian, penghargaan ataupun bantuan yang diterima individu dari orang lain
maupun kelompok. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa dukungan sosial adalah
kehadiran orang lain yang dapat membuat individu percaya bahwa
dirinya dicintai, diperhatikan dan merupakan bagian dari kelompok sosial, yaitu
keluarga, rekan kerja dan teman dekat (Casel dalam Sheridan&Radmacher,
1992). Siegel (dalam Taylor, 1999) mengemukakan, dukungan sosial sebagai
informasi dari orang lain yang menunjukan bahwa ia dicintai dan diperhatikan,
memiliki harga diri dan dihargai serta merupakan bagian dari jaringan
komunikasi dan kewajiban bersama. Dari beberapa pendapat tokoh di atas dapat
disimpulkan bahwa dukungan social merupakan ketersediaan sumber daya yang
memberikan kenyamanan fisik dan psikologis yang didapat melalui interaksi
individu dengan orang lain sehingga individu tersebut merasa dicintai,
diperhatikan, dihargai dan merupakan bagian dari kelompok social.
Bentuk-bentuk Dukungan Sosial
House, dkk (dalam Sarafino, 1994) mengemukakan beberapa
bentuk dukungan sosial, antara lain:
·
Dukungan
Emosional (Emotional Support)
Dinyatakan dalam bentuk bantuan yang memberikan dorongan
untuk memberikan kehangatan dan kasih sayang, memberikan perhatian, percaya
terhadap individu serta pengungkapan simpati.
·
Dukungan
Penghargaan (Esteem Support)
House (dalam Smet, 1994) menyatakan bahwa, dukungan
penghargaan dapat diberikan melalui penghargaan atau penilaian yang positif
kepada individu, dorongan maju dan semangat atau persetujuan mengenai ide atau
pendapat individu serta melakukan perbandingan secara positif terhadap orang
lain.
·
Dukungan
Instrumental (Tangible or Instrumental Support)
Mencakup bantuan langsung, seperti memberikan pinjaman uang
atau menolong dengan melakukan suatu pekerjaan guna menyelesaikan tugastugas
individu.
·
Dukungan
Informasi (Informational Support)
Memberikan informasi, nasehat, sugesti ataupun umpan balik
mengenai apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain yang membutuhkan.
·
Dukungan
Jaringan Sosial (Network Support)
Jenis dukungan ini diberikan dengan cara membuat kondisi
agar seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok yang memiliki persamaan minat
dan aktivitas sosial. Dukungan jaringan sosial juga disebut sebagai dukungan
persahabatan (Companioship Support) yang merupakan suatu interaksi social yang
positif dengan orang lain, yang memungkinkan individu dapat menghabiskan waktu
dengan individu lain dalam suatu aktivitas sosial maupun hiburan.
Komponen-komponen Dukungan Sosial
Weiss (dalam Cutrona, 1994) mengemukakan adanya enam
komponen dukungan sosial yang disebut sebagai “The Social Provision Scale”
dimana masing masing komponen alat berdiri sendiri, namun satu sama lain saling
berhubungan. Adapun komponen tersebut antara lain:
a) Instrumental Support
·
Reliable
Alliance (Ketergantungan yang dapat diandalkan)
Dalam dukungan sosial ini, individu mendapat jaminan bahwa
ada individu lain yang dapat diandalkan bantuannya ketika individu membutuhkan
bantuan, bantuan tersebut sifatnya nyata dan langsung. Individu yang menerima bantuan
ini akan merasa tenang karena individu menyadari ada individu lain yang dapat
diandalkan untuk menolongnya bila individu mengalami masalah dan kesulitan.
·
Guidance (Bimbingan)
Dukungan sosial ini berupa nasehat, saran dan informasi yang
diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Dukungan ini juga dapat berupa feedback (umpan balik) atas sesuatu
yang telah dilakukan individu.
b) Emotional Support
·
Reassurance
of Worth (Pengakuanpositif)
Dukungan sosial ini berbentuk pengakuan atau penghargaan
terhadap kemampuan dan kualitas individu. Dukungan ini akan membuat individu
merasa dirinya diterima dan dihargai.
·
Emotional
Attachment (Kedekatan emosional)
Dukungan sosial ini berupa pengekspresian dari kasih sayang,
cinta, perhatian dan kepercayaan yang diterima individu, yang dapat memberikan
rasa aman kepada individu yang menerima.
·
Social
Integration ( Integrasi sosial)
Dukungan sosial ini memungkinkan individu untuk memperoleh
perasaan memiliki suatu kelompok yang memungkinkannya untuk membagi minat,
perhatian serta melakukan kegiatan secara bersama-sama. Dukungan semacam ini
memungkinkan individu mendapatkan rasa aman, nyaman serta merasa memiliki dan
dimiliki dalam kelompok yang memiliki persamaan minat.
·
Opportunity
to Provide Nurturance (Kesempatan untuk mengasuh)
Suatu aspek penting dalam hubungan interpersonal adalah
perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Dukungan sosial ini memungkinkan individu
untuk memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh
kesejahteraan.
Goetlieb (1983) menyatakan ada dua macam hubungan dukungan
sosial, yaitu hubungan professional yakni bersumber dari orang-orang
yang ahli di bidangnya, seperti konselor, psikiater, psikolog, dokter maupun
pengacara, serta hubungan non professional, yakni bersumber dari
orang-orang terdekat seperti teman, keluarga maupun relasi.
Konsepsi yang salah mengenai kesehatan mental, selama
ini masih banyak mitos dan konsepsi yang diyakini masyarakat Indonesia mengenai
Kesehatan Mental yang keliru, antara lain: gangguan mental adalah herediter/
diturunkan, gangguan mental tidak dapat disembuhkan, gangguan mental muncul
secara tiba-tiba, gangguan mental merupakan aibnagi keluarga dan bagi
lingkungannya. Hal ini sangat berdampak buruk pada seseorang yang sedang
terkena gangguan mental. Mereka yang terkena gangguan mental ringan maupun
berat harus mendapatkan dukungan social baik dari keluarga, sahabat, teman,
maupun lingkungan sekitar mereka. Myers (dalam Hobfoll, 1986) mengemukakan
bahwa sedikitnya ada tiga faktor penting yang mendorong seseorang untuk
memberikan dukungan yang positif, diantaranya:
·
Empati,
yaitu turut merasakan kesusahan orang lain dengan tujuan mengantisipasi emosi
dan memotivasi tingkah laku untuk mengurangi kesusahan dan meningkatkan
kesejahteraan orang lain.
·
Norma
dan nilai sosial, yang berguna untuk membimbing individu untuk menjalankan
kewajiban dalam kehidupan.
·
Pertukaran
sosial, yaitu hubungan timbal balik perilaku sosial antara cinta, pelayanan,
informasi. Keseimbangan dalam pertukaran akan menghasilkan hubungan
interpersonal yang memuaskan. Pengalaman akan pertukaran secara timbal balik
ini membuat individu lebih percaya bahwa orang lain akan menyediakan bantuan.
Daftar Pustaka :
· Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi
Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma
· Papalia, Diane E. Experience Human
Development ; Twelfth Edition. Mc Graw Hill
· Sarwono, Sarlito, W. Meinarno, Eko,A. (2009). Psikologi
Sosial. Jakarta: Salemba Humanika