- Jelaskan metode terapi humanistik eksistensial
- Definisi dan Sejarah Terapi Humanistik Eksistensial
Istilah psikologi humanistik
(Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada
awal tahun 1960i alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran
intelekt-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam
mencarual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan
behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a
third force).
Meskipun tokoh-tokoh psikologi
humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada
konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada
salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme
adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world) dan menyadari penuh
akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang
menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan.
Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki
kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari
keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya, dalam
hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil
oleh seseorang.
Teori eksistensial-humanistik
menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para
ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang
pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam.
Terapi eksistensial berpijak pada
premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan
tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya
eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi
terapi. Pendekatan atau teori eksistensial-humanistik menyajikan suatu landasan
filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas,
kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui
implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan
dasar yang menyangkut keberadaan manusia.
Pendekatan eksistensial-humanistik
mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang
manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada
dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan
memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada
fakta-fakta utama keberadaan manusia – kesadaran diri dan kebebasan yang
konsisten.
Pendekatan Eksistensial-humanistik
berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang
menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksistensial-Humanistik
dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk
mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan
terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang
berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang
manusia.
- Konsep Utama Terapi Humanistik-Eksistensial
1. Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya
sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu
berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin
besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih
alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka
pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih
dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia
bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
2. Kebebasan, tanggung jawab,
dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa
menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan
ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak
terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti
penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan
individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk
mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian
kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi
sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk
menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna
bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia
lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian,
manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara
yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam
menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi
dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha
untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya.
Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi
“sakit”.
- Tujuan-tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial bertujuan agar klien
mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan
potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak atas
kemampuannya.
- Fungsi dan Peran Terapis dalam Terapi Humanistik-Eksistensial
Terapis dalam terapi humanistik
eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai
sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana tekhnik yang digunakannya itu
selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur
yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang
lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien
yang sama.
Ø
- Prosedur dan Teknik Terapi
Menurut Baldwin (1987), inti dari terapi ini adalah
penggunaan pribadi terapi
1. Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya : Implikasi
Konseling.
Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran
akan adanya alternative, motivasi, factor yang mempengaruhi seseorang dan
tujuan hidup pribadi, merupakan sasaran dari semua konseling. Adalah tugas
terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran memerlukan
imbalan.
2. Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling.
Terapis eksistensial terus-menerus mengarahkan fokus
pada pertanggungjawaban klien atas situasi mereka. Mereka tidak membiarkan
klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar, ataupun
menyalahkan bunda mengandug. Apabila klien tidak mau mengakui dan menerima
pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi
yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha
perubahan pribadi (May & Yalom, 1989; Yalom 1980).
Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka
telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk belajar
mengambil resiko dengan menggunakan kebebasan itu. Kalau tidak berbuat seperti
itu berarti klien tak mampu berjalan dan secara neurotik menjadi tergantung pada
terapis.
Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit
mereka menerima fakta bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin
selama hidupnya selalu berusaha untuk menghindarinya.
3. Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa
Berhubungan Dengan Orang Lain : Implikasi Konseling.
Bagian dari langkah terapeutik terdiri dari tugasnya
untuk menantang klien mereka untuk mau memulai meneliti cara dimana mereka
telah kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama dengan jalan membiarkan
orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses terapi itu sendiri sering
menakutkan bagi klien manakala mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah
menyerahkan kebebasan mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi
mereka terpaksa menerima kembali. Dengan jalan menolak untuk memberikan
penyelesaian atau jawaban yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi
dengan realitas yang hanya mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban
mereka sendiri.
4. Pencarian Makna : Implikasi Konseling.
Berhubungan dengan konsep ketidakbermaknaan adalah apa
yang oleh pratis eksistensial disebut sebagai kesalahan eksistensial. Ini
adalah kondisi yang tumbuh dari perasaan ketidaksempurnaan atau kesadaran akan
kenyataan bahwa orang ternyata tidak menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah
kesadaran bahwa tindakan serta pilihan sesorang mengungkapkan kurang dari
potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai pribadi. Manakala orang mengabaikan
potensi-potensi tertentu yang dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan
eksistensial ini. Beban kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga
bukan sebagai gejala yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis
eksistensial adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klie
tentang cara mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang
kehadiran makna dan arah hidup.
5. Kecemasan Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi
Konseling.
Kecemasan merupakan materi dalam sesi terapi
produktif. Kalau klien tidak mengalami kecemasan maka motivasi untuk mengalami
perubahan menjadi rendah. Jadi, terapis yang berorientasi eksistensial dapat
menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana bertenggang rasa dengan
keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya hidup tanpa ditopang
bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan dari hidup yang serba
tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang lebih autonom. Terapis dan
klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu bahwa melepaskan diri dari
pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa disertai dari pola
yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa berkurang pada saat klien
mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan cara-cara hidup yang lebih baru.
Maakala klien menjadi lebih percaya diri maka kecemasan mereka sebagai akibat
dari ramalan-ramalan akan datangnya bencana akan menjadi berkurang.
6. Kesadaran Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi
Konseling.
Latihan dapat memobilisasikan klien untuk secara
sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini bisa
menggugah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa menerima
keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan yang lebih
bermakna.
- Tahap-tahap Pelaksanaan Terapi Humanistik Eksistensial
Pendekatan ini bisa menggunakan
beberapa teknik dan konsep psikoanalitik dan juga bisa menggunakan teknik
kognitif-behavioral. Metode ini berasal dari Gestalt dan analisis
transaksional. Terdapat tiga tahap yang dapat dilakukan oleh terapis dalam
terapi humaniatik eksistesial, antara lain :
- · Tahap pendahuluan
Konselor mambantu klien dalam mengidentifikasi dan
mnegklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara
pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin
pada eksistensial mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah
dalam kehidupan mereka.
- · Tahap pertengahan
Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam
meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka. Semangat ini akan memberikan
klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai
kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
- · Tahap akhir
Berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka
pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai
barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan
untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif
eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan
pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan kebebasan pribadinya.
- Kekurangan dan Kelebihan Terapi Humanistik-Ekstensial
1. Kelebihan
- · Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
- Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri
- Memanusiakan manusia
- Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
- Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
2. Kelemahan
- Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
- Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
- Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
- Memakan waktu lama.
Ø jenis terapi ini kebanyakan di gunakan karena Terapis dalam terapi
humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami
klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana tekhnik
yang digunakannya itu selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap
kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang
satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang
dijalani oleh klien yang sama
2. Jelaskan metode
terapi Psikoanalisa
Terapi Psikoanalisis (Sigmund Freud)
Psikoanalisis
adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia
dan metode psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa
yaitu Sigmund Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul
karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya
dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari
pengalaman seksual pada masa kecil. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa
perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari dari
dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa lima
tahun pertama dalam kehidupannya.
Konsep-konsep
utama terapi psikoanalisis ;
- Struktur kepribadian
- Id (tidak memiliki kontak yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk memperoleh kepuasan sehingga disebut sebagai prinsip kesenangan)
- Ego (disebut juga sebagai prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung dengan duni nyata, ego juga memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam kepribadian. Ego menjadi penengah/penyeimbang antara id dan superego)
- super ego (disebut sebagai prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi oleh super ego akan merasa selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar)
- Kesadaran & Ketidaksadaran
- Konsep ketidaksadaran
- mimpi yang merupakan pantulan dari kebutuhan, kenginan dan konflik yang terjadi dalam diri
- salah ucap / lupa
- sugesti pasca hipnotik
- materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas
- materi yang berasal dari teknik proyektif
- Kecemasan
- Adalah suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang akan terjadi/belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego, dan superego. Kecemasan terdiri dari 3 jenis yaitu kecemasan neurosis yaitu cemas akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas akibat konflik antara kebutuhan nyata/realistis dan perintah superego, dan yang ketiga adalah kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan rasa takut misalnya kecemasan akan bahaya.
Tujuan
terapi :
- Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
- Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan hal yang selama ini tidak disadarinya.
- Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
Peran
terapis :
- Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
- Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
- Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
- Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien
Teknik
– teknik dalam terapi psikoanalisa :
- Asosiasi bebas :
Terapi
asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu
& pelepasan emosi2 yg berkaitan dg situasi2 traumatik di masa lalu. Pasien
secara bebas mengungkapkan segala hal yang ingin dikemukakan, termasuk apa yang
selama ini ditekan di alam bawah sadar. Pasien mengungkapkan tanpa dihambat
atau dikritik. Namun, ada hal yang menjadi salah satu hambatannya yaitu pasien
melakukan mekanisme pertahanan diri saat mengungkapkan hal, sehingga tidak
semua hal bisa terungkap. Maka, pasien diminta untuk berbaring di dipan khusus
dan psikoanalisnya duduk di belakang. Pasien dan psikoanalis tidak berhadapan
langsung, sehingga diharapkan pasien dapat mengungkapkan pikirannya tanpa merasa
terganggu, tertahan, atau terhambat oleh terapis.
- Penafsiran
Adalah
suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan
transferensi. Dengan kata lain teknik ini digunakan untuk menganalisis
teknik-teknik yang lainnya. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis
yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku
yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi
dan hubungan terapeutik itu sendiri.
- Analisis Mimpi
Adalah
prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan
memberikan kepada pasien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
Freud menganggap bahwa mimpi merupakan jalan keluar menuju kesadaran karena
pada saat tidur, semua pemikiran yang ditekan di alam bawah sadar bisa muncul
ke permukaan. Pada teknik ini difokuskan untuk mimpi-mimpi yang berulang-ulang,
menakutkan, dan sudah pada taraf mengganggu.
- Analisis Resistensi
Adalah
dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Terapis harus bisa
menerobos kecemasan yang ada pada pasien sehingga pasien bisa menyadari alasan
timbulnya resitensi tersebut. Setelah klien bisa menyadarinya, pasien bisa
menanganinya dan bisa mengubah tingkah lakunya.
- Analisis Transferensi/Pengalihan
Adalah
teknik utama dalam terapi psikoanalis karena dalam teknik ini, masa lalu
dihidupkan kembali. Pada teknik ini diharapkan pasien dapat memperoleh
pemahaman atas sifatnya sekarang yang merupakan pengaruh dari masa lalunya.
3.Jelaskan perbedaan terapi humanistik eksistensial
dengan person centered theraphy (Rogers)
Terapi
humanistik eksistensial berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan
suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan
Eksistensial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang
bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik
bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup
terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan
asumsi-asumsi tentang manusia.
Sedangkan
person-centered therapy tentang sifat manusia menolak konsep tentang
kecenderungan-kecenderungan negatif dasar. Sementara beberapa pendekatan
beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan
berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain
kecuali jika telah menjalani sosialisasi, Rogers menunjukkan kepercayaan yang
mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak
ke muka, sebagai berjuang untuk berfungsi penuh, serta sebagai pemilik kebaikan
yang positif. Pandangan tentang manusia yang positif ini memiliki
implikasi-implikasi yang berarti bagi praktek terapi client-centered.
Berkat pandangan filosofis bahwa individu memiliki kesanggupan yang koheren
untuk menjauhi maladjustment menuju keadaan psikologi yang sehat, terapis
meletakkan tanggung jawab utamanya bagi proses terapi pada klien.
Pandangan
Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan akan arti.
Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri
dan kemudian setelah menemukan mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl setiap
kehidupan mempunyai makna dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus
dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang
dinamakan logoterapi. Tujuan logoterapi agar dalam masalah yang dihadapi
klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta.
Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari
masalah tersebut.
Logoterapi
memiliki tiga konsep dasar, yaitu:
1. Keinginan
Akan Makna
Istilah tema
utama logoterapi adalah karakteristik eksitensi manusia, dengan makna hidup
sebagai inti teori. Menurut Frankl yang paling dicari dan diinginkan manusia
dalam hidupnya adalah makna, yaitu makna yang didapat dari pengalaman hidupnya
baik dalam keadaan senang ataupun dalam penderitaan.
Konsep
keinginan kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi
utama
kepribadian
manusia (Frankl, 1977). Sebutan the will to meaning sengaja dibedakan
Frankl
dengan sebutan the drive to meaning karena makna dan nilai-nilai hidup
tidak
mendorong (to
push, to drive) tetapi seakan-akan menarik (to pull) dan menawar (to
offer) manusia
untuk memenuhi kenyataan hidup, yang menurutnya pula tidaklah
menyediakan
keseimbangan tanpa tegangan, tetapi justru menawarkan suatu tegangan
khusus,
yaitu tegangan kenyataan diri pada waktu sekarang dan makna-makna yang harus
dipenuhi: Bring
us to Meaning. Diantara kedua hal itulah proses pengembangan pribadi
berlangsung.
2. Kebebasan
Berkeinginan
Konsep
kebebasan berkeinginan (freedom of will), mengacu pada kebebasan manusia
untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap
kondisi-kondisi biologis, psikologi, dan sosiokultural. Kualitas ini adalah
khas insani yang bukan saja merupakan kemampuan untuk mengambil jarak (to
detach) terhadap berbagai kondisi lingkungan, melainkan juga kondisi diri
sendiri (self-detachment). Dalam pandangan logoterapi, kebebasan disini
adalah kebebasan yang bertanggung jawab agar tidak berkembang menjadi
kesewenangan.
3. Makna
Hidup
Konsep makna
hidup adalah hal-hal yang memberikan arti khusus bagi seseorang yang apabila
berhasil dipenuhi akan menyebabkan kehidupannya dirasakan berarti dan berharga,
sehingga akan menimbulkan penghayatan bahagia (happiness).
Makna hidup
tidak dapat diberikan oleh siapa pun, tetapi harus dicari dan ditemukan
sendiri. Orang lain hanya dapat menunjukkan hal-hal yang potensial bermakna,
akan tetapi kembali kepada orang itu sendiri untuk menentukan apa yang
ditanggapinya.
Makna yang
kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi. Bukan orang lain atau sesuatu yang
lain, bukan orang tua, teman, atau bangsa yang dapat memberi kita pengertian
tentang arti dan maksud dalam hidup kita.
Menurut
Frankl (1959), pencarian makna dalam hidup adalah salah satu ciri manusia.
Dalam pandangan para eksistensialis, tugas utama konselor adalah mengeksplorasi
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ketidakberdayaan, keputusasaan,
ketidakbermaknaan, dan kekosongan eksistensial. Tugas proses terapeutik adalah
menghadapi masalah ketidakbermaknaan dan membantu Konseli dalam membuat makna
dari dunia yang kacau. Frankl menandaskan bahwa fungsi Konselor bukanlah
menyampaikan kepada Konseli apa makna hidup yang harus diciptakannya, melainkan
mengungkapkan bahwa Konseli bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan,
karena penderitaan manusia bisa diubah menjadi prestasi melalui sikap yang
diambilnya dalam menghadapi penderitaan itu.
Daftar Pustaka :
- ·Corey Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama
- Misiak, henryk.2005.psikologi fenomenologi,eksistensial dan humanistic. Bandung: PT Rafika aditama
- Semiun,Yustinus.(2006). Kesehatan mental 3. Kanisius: Yogyakarta
- Feist, Jess dan Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. New York: Salemba Humanika
- Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
- Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia